| Perkenalan
dengan Panjat Tebing |
|
Seingatku,
waktu aku duduk dibangku SMP atau SMA dulu, aku sering berpikir
gimana sih enaknya manjat tebing. Kalo liat di TV kayaknya asyik
banget dan juga keren, bergelayutan di atas sana dengan seutas
tali. Tentu saja dulu aku enggak tau kalo Panjat Tebing memerlukan
peralatan yang bisa dibilang canggih. Keinginan untuk belajar
Panjat Tebing kadang muncul dan pergi sampai akhirnya bener-bener
menghilang karena enggak ada informasi yang mendukung seperti
gimana aku mau mulai, siapa yang mau ngajarin, manjat nya dimana,
dan seribu satu pertanyaan lainnya.
Setelah
aku tinggal di Amerika tepatnya di Portland Oregon. aku bertemu
dengan seorang rekan dari Indonesia dimana kami biasa ngumpul
dengan komunitas Indonesia dan Malaysia tiap dua minggu sekali.
Dia cerita kalo beberapa hari lalu dia manjat dinding untuk pertama
kalinya di sebuah Rock Climbing Gym di Portland sambil ngeliatin
photo-photo manjat. Wah aku jadi ngiler tuh waktu itu, keinginan
untuk belajar Panjat Tebing terlahir kembali dan kali ini dengan
penuh harapan juga realitas. Aku pikir kalo mau belajar manjat
inilah saatnya. Lalu aku janjian ama temenku itu untuk manjat
di gym yang sama. Setelah beberapa minggu berlalu dan aku tanya
kapan dia mau ke gym, aku enggak pernah dapat jawaban yang pasti.
Akhirnya…..beranjak dari rasa kejengkelan aku bertekad untuk
belajar saat itu juga.
Kebetulan
College dimana waktu itu aku kursus menawarkan pelatihan dasar
Panjat Tebing yang dilakukan di dinding panjat. Aku langsung daftar
online.
Saat
pertama masuk ke gym dan bersiap untuk belajar Panjat Tebing aku
bener-bener excited sampe-sampe gemeteran dan enggak sabar untuk
mengeksekusi tarian-tarian amatir di dinding panjat. Waktu itu
ada sekitar 12 murid. Beberapa murid sudah pernah manjat dinding
tapi kebanyakan sih kayak aku yang pengalamannya nol. Pelatihku
masih sangat muda didampingi oleh asistennya yang manjatnya kayaknya
lebih bagus daripada si pelatih itu sendiri. aku masih ingat
nama pelatihnya yaitu Joel, seorang pengusaha restoran Pizza dan
assistennya bernama Damien.
Kami
belajar dasar-dasar belay, tehnik memanjat dan bouldering dan
yang asyik lagi yaitu rapeling dan aid climbing atau memanjat
dengan jumar. Aku latihan manjat seminggu sekali selama satu bulan,
singkat banget emang tapi udah mencukupi untuk wawasan dasar memanjat.
Setelah kursus, kegiatan panjat memanjat ku pupus abis karena
aku enggak punya partner, aku enggak nyempetin kontak ama murid
yang lain. Sebetulnya banyak murid yang akhirnya mundur dan enggak
meyelesaiin kursusnya.
Aku
udah ngerasa cocok banget dengan Panjat Tebing dan sedikit-demi
sedikit aku mulai beli peralatan. Alat pertama yang aku beli yaitu
sepatu La Sportiva Cliff, yang warnanya biru dan sebuah kantong
kapur berwarna biru juga (biar cocok!) . Kemudian dilanjutkan
dengan harnes dan belay device samapi akhirnya tali kernmantel
dan beberapa pelengkap lainnya.
Setelah
cuti manjat sekitar 2 bulan, jiwa memanjatku mulai berontak dan
ingin manjat tebing beneran tapi aku enggak punya partner. Mulailah
aku nyari info tentang solo climbing atau manjat sendirian. Setelah
melakukan cukup riset dan pengumpulan informasi aku akhirnya membeli
sebuah alat yang aku pake untuk solo toproping.
Pagi
pagi sekali aku udah siap berangkat manjat. Waktu itu bulan January
yang cuacanya masih agak dingin dan juga basah. Karena perkiraanku
muka tebing bakal sedikit basah maka aku tinggalkan sepatu panjat
tebingku dan mencoba untuk manjat pake sepatu hiking. lagian rencananya
aku cuma mau manjat rute yang paling enteng.
Setelah
hiking sekitar 20 menit aku berada dipuncak tebing dan siap untuk
memasang jangkar. Pikir-pikir tujuh keliling aku memutuskun untuk
mencari jangkar (anchor) yang paling gampang dicapai biar aku
bisa dengan mudah memasang jangkar buat solo toproping. Ini menjadi
masalah karena dari atas sana aku enggak bisa liat dengan jelas
gimana rute pemanjatannya. Udah terlanjur dan nekat akhirnya aku
rapel dan mulai manjat sendirian.
Ditengah
pemanjatan terpelongoklah aku melihat rekahan tebing yang sempit.
"Sialan nih!" Pikir ku." Aku belum pernah manjat
crack". Ternyata perhitunganku salah, rute yang gampang susah
sekali dicari karena dinding tebing yang berjenis basalt sangat
terkenal dengan pemanjatan yang sequential dikarenakan enggak
ada banyak pegangan tangan atau pijakan kaki ditambah lagi tebing
tsb diselingi dengan retakan2 vertikal yang teknik pemanjatannya
belum pernah aku pelajari. Sepatu hiking-ku juga suatu kesia-siaan
yang ujung-ujungnya aku harus manjat dengan kaki telanjang. Aku
mentok ditengah-tengah tapi aku enggak mau "menyerah"
dan rapel lagi ke dasar tebing. Habisnya kalo nyerah aku harus
hiking jauh lagi untuk kembali ke puncak membersihkan dan mengambil
set-up toprope yang udah aku pasang di atas sana.
Otak-ku
ku peras selama setengah jam penuh. Dengan susah payah aku mencoba
memanjat retakan tsb yang pada akhirnya enggak berhasil juga.
Aku mulai kelelahan dan terjatuh beberapa kali, aku bersyukur
alat yang kupake berfungsi dengan baik. Dan satu kali aku terayun
jatuh dan kepalaku terbentur tebing dengan keras, untungnya aku
pake helm kalo enggak mungkin aku bakalan udah harus diboyong
pake ambulance. Karena udah mulai merasa putus asa aku memutuskan
untuk memanjat dengan cara apapun asalkan nyampe ke atas. Kebetulan
aku membawa sepasang tali kernmantel kecil dan teringat satu simpul
yang bisa digunakan untuk aid climbing. Dengan simpul prussik
dan titik darah penghabisan akhirnya aku sampe juga ke puncak
dengan selamat.
Pengalaman
itu cukup mengerikan bagiku walaupun enggak bakal bikin aku kapok
untuk manjat solo, dari yang sudah-sudah, manjat dengan partner
jauh lebih seru dan aku belum pernah manjat solo lagi sejak itu.
Setelah bergabung dengan rock climbing gym dan memanjat secara
teratur sepertinya aku ngerasa bisa "menikmati hidup"
dengan lebih baik... :-)
Dua
tahun kemudian ketika aku manjat di Gym, aku secara kebetulan
bertemu kembali dengan guru pertamaku, Joel, ketika dia sedang
bouldering bersama isterinya. Dia enggak mengenalku dan aku samar-samar
mengenalnya. Setelah sedikit perkenalan kami saling berbagi cerita.
Aku bilang sama dia kalo aku sangat bersyukur bisa menemukan olah
raga Panjat Tebing. Dengan agak malu-malu dia berkata " Jangan
nonton saya manjat, ya! Saya udah lama enggak manjat. Liat aja
perutku yang gendut penuh dengan pizza dan liat perutmu yang langsing!"
Dia mengekspresikan kegembiraannya akan satu muridnya yang terus
menggeluti olah raga yang dia ajarkan. Yang penting senang!
tony
|