| Gerak,
Gaya dan Tehnik memanjat |
|
Bagi
pemula yang belum pernah manjat tebing/ dinding sama sekali, akan
terasa sangat canggung saat pertama kali manjat. Semua ini normal
dan secara psikologis biasa-biasa saja. Saat inilah kamu berpikir
tentang apa aja yang diperlukan untuk manjat seperti gimana menggapai
satu pegangan, gimana mindahin pijakan kaki, gimana mentransfer
berat badan tanpa terayun jatuh dll. Semua pemanjat mengalami
hal ini. Seperti halnya ingatan, otot-otot kita juga perlu dilatih
untuk mengingat gerakan-gerakan yang diperlukan untuk melakukan
aktivitas tertentu. Contohnya saat belajar naik sepeda atau berenang,
setelah tubuh hapal akan gerakan tersebut akan sangat mudah kita
melakukannya lagi dilain kesempatan. Kemampuan mengingat akan
gerak ini disebut engram. Kalo waktu belajar kamu melakukan gerakan
yang salah dalam mengeksekusi tehnik tertentu maka untuk kedepannya
akan lebih susah lagi untuk memperbaiki tehnik itu karena hapalan
gerak yang salah harus di hapus dari otak kita dan kita harus
mulai dari awal lagi untuk melatih tehnik tsb dengan benar. Itulah
alasan kenapa latihan tehnik yang benar perlu dilakukan sedini
mungkin.
Kenapa
kita harus belajar tehnik? Soalnya untuk melatih kekuatan
perlu waktu yang lama. Sebagian pemanjat punya anggapan
bahwa "Tehnik cuma untuk orang yang lemah". Mereka adalah
pemanjat-pemanjat yang latihan siang dan malam untuk meningkatkan
kekuatan mereka khususnya otot tangan dan jari-jarinya biar hebat
seperti baja dan bisa pull-up satu tangan atau bahkan satu jari.
Kalo kita udah sering berlatih tehnik dan manjat secara teratur
tanpa disadari kekuatan jari, tangan, otot perut dan daya tahan
akan sangat meningkat. Kombinasi dari tehnik yang manjur dan kekuatan
yang lumayan bakal bikin pemanjatan keliatan indah, mudah dan
membuat penonton kagum. Tehnik dulu, kekuatan bakal nyusul
dengan sendirinya.
Karena
kita pemanjat pemula dan enggak bisa dibandingin dengan Chris
Sharma atau Dave Graham, latihan tehnik sudah harus menjadi fokus
kita untuk menjadi pemanjat yang lebih baik. Kelenturan tubuh
menunjang sekali penguasaan tehnik. Kamu enggak perlu lentur banget
kayak tukang akrobat dari China, asalkan tubuh kamu enggak kaku
banget kamu bakal bisa belajar tehnik dengan memuaskan. Supaya
tubuh enggak kaku, lakukan pemanasan dan kemudian kelenturan/
stretching. Kalo saya pribadi biasanya langsung melakukan pemanjatan
traverse/ menyamping dengan tingkat kesulitan yang super mudah
untuk pemanasan, sebelum dilanjutkan dengan rute panjang dan melelahkan.
Tehnik
Dasar yang Umum
1. Pertahankan 3 titik kontak. 2 tangan dan 2
kaki total semuanya jadi 4 kontak. Waktu kamu manjat usahakan
1 kontak mencari pegangan atau pijakan dan 3 lainnya tetap menempel
pada tebing. Dengan cara ini kamu enggak bakal cepet cape.
2. Usahakan tangan selalu lurus ( jangan membengkokan
siku). Waktu meraih pegangan tangan setinggi apapun segera
jatuhkan badan kamu dengan menekuk kedua lutut dan meluruskan
tangan. Kalo kamu terus2an membengkokan siku waktu manjat dan
mencengkram dengan keras dijamin tangan kamu cepet lemes. Dengan
tangan lurus sebagian beban tubuh ditunjang oleh otot bahu dan
dada jadinya lebih enteng.
3. Manjat dengan kaki dan bukan tangan. Karena kaki lebih
kuat maka sering2lah mendorong vertikal dengan kaki kamu bukannya
menarik vertikal dengan tangan kamu.
Dalam
penguasaan tehnik kita juga harus familiar dengan medan tempur.
Jenis bebatuan tebing akan sangat menentukan tehnik apa yang kita
perlukan agar bisa manjat kepuncak dengan mulus. Tebing dan bebatuanlah
yang bakal mendikte kita dan memaksa kita untuk begini dan begitu.
Proses inilah yang membuat pemanjat tebing dan seorang pelaku
boulder (pemanjat batuan besar) bersahabat dengan alam. Makanya
selain kita harus tau nama dari tehnik itu sendiri kita juga harus
mengenal nama dari bentuk pegangan/ pijakan yang bakalan dipake.
Beberapa
jenis pegangan tangan/ bentuk muka tebing
2
Jenis Pegangan yaitu pegangan tangan (handholds) dan pegangan
jari (fingerholds).
| Kendi
atau
Ember
(Jug/ bucket): Ada
yang menyebutnya Thank-God hold (Pegangan
yang diberkahi Tuhan) yaitu bagian batuan yang menonjol
dan pas banget buat gantungan telapak tangan yang dibengkokan
seperti pengkait. Pegangan bentuk ini adalah idaman para
pemanjat khususnya para pemula karena enggak bikin cape..
Yap, betul sekali! kalo udah dapet pegangan ini kamu bisa
istirahat sambil minum kopi dan ngerokok. |
|
|
| |
Kendi
atau
Ember |
 |
|
Krimper
(Crimper):
Tonjolan
horisontal tipis dimuka tebing yang hanya pas untuk penempatan
ujung tepi jari. Tipe pegangan ini menjadi dambaan sebagian
pemanjat yang udah latihan bertaun-taun dan selalu berusaha
untuk "push their limit"/ mempraktekan kemampuan
terbaiknya. Pegangan jenis ini kurang bersahabat dengan
anatomy jari pemanjat baru. Kalo terlalu sering bisa bikin
tendonitis (inflamasi/bengkak tendon) di jari. Luka tendon
jari bisa sakit buanget dan menetap sampe 2 bulan lebih.
Hati-hati latihan dengan pegangan yang satu ini. |
Krimper |
|
Tepi
(Edge):
Hampir sama dengan krimper cuma permukaannya lebih luas jadinya
lebih gampang untuk dipake ngegantung.
Kantong (Pocket):
Lubang-lubang
di permukaan tebing. Kalo permukaan tebing banyak lobang-lobangnya
dari berbagai macam ukuran pasti seru untuk dipanjat.
 |
|
 |
Tepi |
|
Kantong |
Sloper
(Sloper): Satu
jenis pegangan yang ditakuti dan sangat menantang yaitu permukaan
pegangan tangan yang menonjol halus seperti kurva atau bukit tanpa
ada fitur lainnya. Fitur (feature) yaitu lekukan atau benjolan
kecil yang ada dimuka tebing.
Jepitan (Pinch):
Tonjolan, bisa besar atau kecil, dalam posisi vertikal. Kamu harus
menjepitnya dengan jempol dan jari lainnya. Pegangan jepit ini
perlu kekuatan jari/ tangan yang bagus.
 |
|
 |
|
Sloper |
|
Jepit
atau Cubit |
Rekahan
(Crack):
Nama yang menjelaskan
dengan sendirinya. Rekahan yaitu belahan di permukaan tebing yang
membentang mendatar ataupun vertikal.
Pembahasan
tehnik ini yang khusus untuk face climbing terbagi menjadi tiga
bagian:
1. Tehnik Tangan dan Jari
2.
Tehnik Kaki
3.
Tehnik Tubuh (bisa kombinasi dari
tangan, kaki, dan badan)
|